
Oke, flo~
Seperti yang telah di janjikan di bagian dua ini merupakan klimaksnya. Langsung saja di bagian yang ‘katanya’ klimaks ini ya. :D
Lantas apa hubungannya dengan ‘Matematika Dipandang Sebelah Mata?’, baiklah ini sebenarnya tidak seberapa bila dibandingkan dengan pengalaman orang lain yang bahkan mungkin lebih beruntung darinya. Tapi, karena justru hal yang sederhana ini lah bisa menyadarkan apa yg sesungguhnya ia inginkan.
Kebanyakan orang berpikir kalau matematika merupakan ilmu yang pasti dan kaku. Ya, saya pun sempat berfikir seperti itu. Namun memang benar adanya perkataan ‘janganlah kau menilai sesuatu, sebelum kau tahu pasti bagaimana yang sesungguhnya’ karena pembicaraan orang lain tidak sepenuhnya akurat, tidak sepenuhnya benar, tidak sepenuhnya harus di percaya. Toh orang yang mengatakannya belum tentu ‘kan, terjun langsung atau bahkan melakukan riset.
Pernahkan kau melihat permainan estafet kata, atau gambar? Yaps, dari mulut kemulut, silih beganti. Akhir yang didapatkan tidak lah sama. So bagaimana seharusnya? Mudah saja, Hargailah mereka, jangan jatuhkan mereka. Apa untungnya bagi kita? Adakah? Tidak bukan?. Hanya kepuasan hati yang bersifat sementara dan tidak ada gunanya yang ada. Setiap ilmu, apapun itu, memiliki bobotnya masing-masing.
Baiklah, saya tahu lain kepala lain pemikiran pula, bukan? Pikir sebagian orang, setiap jurusan yang mengeluarkan banyak biaya, memiliki kesan ‘keren’ apabila mendengar nya, itu lah yang diaggapnya hebat. Saya hargai itu, tapi saya tidak sepenuhnya setuju. Kenapa? Sudah saya tekankakan ‘Setiap ilmu, apapun itu, memiliki bobotnya masing-masing’.
Tapi sehebat apapun motivasinya sekuat apapun keinginannya, hati manusia tidaklah statis, kian dinamis adanya. Satu menit begitu satu menit kemudian begini. Mudah goyah, ya memang benar adanya. Maka dari itu, harus teguh pendirian. Ya saya tahu mengucapkan tidak semudah mengamalkan. So, apa salahnya kalau kita coba.
Begitu banyak lika-liku bagi mereka yang mencoba untuk teguh di jalannya sendiri. Lahaula wala quwata ilabillah hil aliyil adzim.
Sudah di penghujung postingan bagian dua ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat. Aamiin
Seperti yang telah di janjikan di bagian dua ini merupakan klimaksnya. Langsung saja di bagian yang ‘katanya’ klimaks ini ya. :D
Lantas apa hubungannya dengan ‘Matematika Dipandang Sebelah Mata?’, baiklah ini sebenarnya tidak seberapa bila dibandingkan dengan pengalaman orang lain yang bahkan mungkin lebih beruntung darinya. Tapi, karena justru hal yang sederhana ini lah bisa menyadarkan apa yg sesungguhnya ia inginkan.
Kebanyakan orang berpikir kalau matematika merupakan ilmu yang pasti dan kaku. Ya, saya pun sempat berfikir seperti itu. Namun memang benar adanya perkataan ‘janganlah kau menilai sesuatu, sebelum kau tahu pasti bagaimana yang sesungguhnya’ karena pembicaraan orang lain tidak sepenuhnya akurat, tidak sepenuhnya benar, tidak sepenuhnya harus di percaya. Toh orang yang mengatakannya belum tentu ‘kan, terjun langsung atau bahkan melakukan riset.
Pernahkan kau melihat permainan estafet kata, atau gambar? Yaps, dari mulut kemulut, silih beganti. Akhir yang didapatkan tidak lah sama. So bagaimana seharusnya? Mudah saja, Hargailah mereka, jangan jatuhkan mereka. Apa untungnya bagi kita? Adakah? Tidak bukan?. Hanya kepuasan hati yang bersifat sementara dan tidak ada gunanya yang ada. Setiap ilmu, apapun itu, memiliki bobotnya masing-masing.
Baiklah, saya tahu lain kepala lain pemikiran pula, bukan? Pikir sebagian orang, setiap jurusan yang mengeluarkan banyak biaya, memiliki kesan ‘keren’ apabila mendengar nya, itu lah yang diaggapnya hebat. Saya hargai itu, tapi saya tidak sepenuhnya setuju. Kenapa? Sudah saya tekankakan ‘Setiap ilmu, apapun itu, memiliki bobotnya masing-masing’.
Tapi sehebat apapun motivasinya sekuat apapun keinginannya, hati manusia tidaklah statis, kian dinamis adanya. Satu menit begitu satu menit kemudian begini. Mudah goyah, ya memang benar adanya. Maka dari itu, harus teguh pendirian. Ya saya tahu mengucapkan tidak semudah mengamalkan. So, apa salahnya kalau kita coba.
Begitu banyak lika-liku bagi mereka yang mencoba untuk teguh di jalannya sendiri. Lahaula wala quwata ilabillah hil aliyil adzim.
Sudah di penghujung postingan bagian dua ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat. Aamiin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar