Hi florist~
Rasanya sudah lama ‘menggantung’ kan kebun ini. Entahlah,
mungkin rasa malas datang melanda. Kalaulah memang ini kebun beneran, wah! Mungkin
sudah menjadi hutan rimba, atau bahkan tanaman liar tumbuh di sekitar kebun.
Ups! Oke cukup, nampaknya setelah sekian lama gak nulis menjadikan tangan dan
pikiran ini tidak singkron. :p
Disini saya tidak akan berbicara masalah teori,
karena sudah banyak sumber yang menjelaskan begitu detail tentang matematika
dan seluk beluknya. Mungkin disini saya akan lebih menekankan pada pengalaman
saya sebagai seorang mahasiswa matematika. *uuuuhhh, so though right! Flo? :’)
Let’s get starting!
Kisah ini berawal dari seorang anak yang dulunya
sempat mengangan-angan kan untuk menjadi seorang dokter. Sempat masuk Sekolah
Menengah Kejururan Kesehatan keperawatan, Yaash dan mimpinya untuk menjadi
seorang dokter di urungkannya. Bahkan ia sempat ingin masuk dunia per DKV an—Desain
Komunikasi Visual—karena hobi nya akan editing. Saya tidak akan menceritakan
kenapa mimpinya untuk menjadi seorang dokter ia hempaskan. Ingat! :D tapi di
lain waktu saya akan mencoba untuk berbgai kisahnya, flo.
Alhasil sekarang ia merupakan seorang mahasiswa
matematika, yang bahkan tidak terlintas dipikiran nya untuk masuk jurusan itu. Bukan
karena ia tidak suka akan pelajaran itu, melainkan karna keinginan kerasnya untuk
menjadi dokter lah yang membuatnya tidak sempat menyadari apa yang sesungguhnya
ia inginkan. Jangan salah flo, justru yang membuatnya memutuskan untuk masuk di
jurusan matematika itu adalah rasa senang dan penasarannya pada saat memecakan
soal matematika yang tidak ia sadari sewaktu dirinya menginjak di sekolah
dasar.
Apakah kau tau, flo… keputusannya untuk menjadi
seorang mahasiswa matematika tidak mudah. Rasanya, keinginan ia untuk menjadi
seorang putri dari keluarga kecil yang pertama kali nya melanjutkan studi di
jenjang yang lebih tinggi itu tidak akan pernah terjadi. Lalu apa hubungannya
dengan judul postingan ini? Tenang, kan beluum. ;)
Ayolah keperawatan dengan basis hafalan nya anatomi,
fisiologi dsb berbeda dengan matematika yg memiliki nilai pasti. Tentu saja ia
bangga dan bisa mempunyai banyak ilmu. Hanya karena ia tidak melanjutkan
studinya di dunia kesehatan dan melanjutkan pada bidang yang berbeda, bukan
berarti ilmu yang dulu ia kumpulkan dilupakan begitu saja. Exactly no, flo!.
Dibagian 1 ini saya mendapatkan hikmah yang membuat
saya teguh dengan jalan yang saya ambil saat ini. Bersyukurlah karena ia
diberikan kesempatan oleh Sang Maha Kuasa untuk bisa mempleajari ilmu yang
berbeda. Apa yang kita inginkan, belum tentu baik dimata Allah bagi kita,
bukan? Jadi syukurilah selama kita masih diberikan kesempatan oleh-Nya di dunia
yang fana ini.
Untuk postingan bagian pertama, saya cukupkan sampai
disini dulu. Dibagian dua? Klimaks, flo. Semoga tulisan abal-abal ini bisa
bermanfaat. Aamiin :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar