Rabu, 02 September 2015

Matematika Dipandang Sebelah Mata #1




Hi florist~
Rasanya sudah lama ‘menggantung’ kan kebun ini. Entahlah, mungkin rasa malas datang melanda. Kalaulah memang ini kebun beneran, wah! Mungkin sudah menjadi hutan rimba, atau bahkan tanaman liar tumbuh di sekitar kebun. Ups! Oke cukup, nampaknya setelah sekian lama gak nulis menjadikan tangan dan pikiran ini tidak singkron. :p
Baiklah, kembali kejudul…
Disini saya tidak akan berbicara masalah teori, karena sudah banyak sumber yang menjelaskan begitu detail tentang matematika dan seluk beluknya. Mungkin disini saya akan lebih menekankan pada pengalaman saya sebagai seorang mahasiswa matematika. *uuuuhhh, so though right! Flo? :’)

Let’s get starting!
Kisah ini berawal dari seorang anak yang dulunya sempat mengangan-angan kan untuk menjadi seorang dokter. Sempat masuk Sekolah Menengah Kejururan Kesehatan keperawatan, Yaash dan mimpinya untuk menjadi seorang dokter di urungkannya. Bahkan ia sempat ingin masuk dunia per DKV an—Desain Komunikasi Visual—karena hobi nya akan editing. Saya tidak akan menceritakan kenapa mimpinya untuk menjadi seorang dokter ia hempaskan. Ingat! :D tapi di lain waktu saya akan mencoba untuk berbgai kisahnya, flo.

Alhasil sekarang ia merupakan seorang mahasiswa matematika, yang bahkan tidak terlintas dipikiran nya untuk masuk jurusan itu. Bukan karena ia tidak suka akan pelajaran itu, melainkan karna keinginan kerasnya untuk menjadi dokter lah yang membuatnya tidak sempat menyadari apa yang sesungguhnya ia inginkan. Jangan salah flo, justru yang membuatnya memutuskan untuk masuk di jurusan matematika itu adalah rasa senang dan penasarannya pada saat memecakan soal matematika yang tidak ia sadari sewaktu dirinya menginjak di sekolah dasar.

Apakah kau tau, flo… keputusannya untuk menjadi seorang mahasiswa matematika tidak mudah. Rasanya, keinginan ia untuk menjadi seorang putri dari keluarga kecil yang pertama kali nya melanjutkan studi di jenjang yang lebih tinggi itu tidak akan pernah terjadi. Lalu apa hubungannya dengan judul postingan ini? Tenang, kan beluum. ;)

Ayolah keperawatan dengan basis hafalan nya anatomi, fisiologi dsb berbeda dengan matematika yg memiliki nilai pasti. Tentu saja ia bangga dan bisa mempunyai banyak ilmu. Hanya karena ia tidak melanjutkan studinya di dunia kesehatan dan melanjutkan pada bidang yang berbeda, bukan berarti ilmu yang dulu ia kumpulkan dilupakan begitu saja. Exactly no, flo!.

Dibagian 1 ini saya mendapatkan hikmah yang membuat saya teguh dengan jalan yang saya ambil saat ini. Bersyukurlah karena ia diberikan kesempatan oleh Sang Maha Kuasa untuk bisa mempleajari ilmu yang berbeda. Apa yang kita inginkan, belum tentu baik dimata Allah bagi kita, bukan? Jadi syukurilah selama kita masih diberikan kesempatan oleh-Nya di dunia yang fana ini.

Untuk postingan bagian pertama, saya cukupkan sampai disini dulu. Dibagian dua? Klimaks, flo. Semoga tulisan abal-abal ini bisa bermanfaat. Aamiin :) 

  



  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar